Oleh-oleh dari Pameran Mahakarya Keris Ngayogyakata Hadiningrat*

Dalam budaya Jawa dikenal kultural bapa tapa, anak nampa, putu kelu, buyut katut, canggah kesrambah, yang ada keterkaitanya dengan dunia perkerisan. Sehingga para pinisepuh banyak mengungkap pesan agar anak-cucu senantiasa eling lan waspada terhadap tawaran sesat gebyar dunia dengan mengedepankan laku prihatin. Hidup bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk memprihatinkan anak keturunan atau generasi penerus. Dalam dunia tosan-aji, manusia jawa merumuskan sebuah doa yang diwujudkan dalam sebentuk keris. Mulai tapa, mati-raga, tapa-bisu dan lainya. Laku prihatin dari Empu Atau Pemesan keris pun bukan main-main. Tidak sehari dua, tapi hampir enam bulan, bahkan lebih.

Maka tidaklah mengherankan jika keris yang diciptakan pun hebat. Keris Hebat baru mrupakan sebuah simbol yang menuntut kehebatan pemiliknya pula. Artinya, apakah si pemilik mampu menebar ‘ganda arum-matarum’ dalam kehidupan di dunia ini. Ini yang kadang ditangkap salah oleh para pecinta keris. kemudian keris diminyaki dengan berbagai wewangian. Sejatinya yang dimaksud menebar ‘ganda arum’ itu harus dilambari ulat manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembah laku utama. Artinya, si pemilik keris harus senantiasa menebar senyum kepada siapa saja, berbicara dengan baik, tanpa menyakiti orang lain disertai dengan tindak kebaikan. Tanpa sikap yang dituntut sebuah keris, maka keris tidak akan memiliki arti dan manfaat bagi pemiliknya.

*)Ini merupakan kutipan petikan dari Sambutan yang di sampaikan Sri Sultan Hamengku Buwana X, pada katalog pameran Mahakarya Keris Ngayogyakata Hadiningrat. di nDalem Tjokrohadiningratan, 9-11 Oktober 2009

Popularity: 17%

Related posts:

  1. Keris Dapur Tilam Upih
  2. Keris Berdapur Brojol